Jumat, 17 April 2015

TERJADI KEMBALI

Terulang kembali apa yang aku takutkan, berada di situasi dimana aku harus memulai semua dari awal, kembali beradaptasi dengan keadaan, kembali berpikir keras untuk mendapatkan kehidupan yang layak. ini berawal dari kesalahpahaman yang terucap dari bibir yang tak bertulang ini, mengucapkan kata-kata yang tak seharusnya di ucapkan, mulanya hanya terjadi pertengkaran yang membuat aku bungkam seribu bahasa, tak ingin bicara jika tidak penting, aku berpikir dengan cara itu emosiku tidak akan memuncak, aku meyakini jika dengan diam bisa membuat keadaan menjadi lebih tenang. begitulah pemikiran terakhirku sebelum semuanya berubah sampai saat ini.

diamku tak membuahkan hasil, nyatanya keadaan tidak berubah, aku semakin terpojok, hingga aku memutuskan untuk merubah pikiran dan membuka mulutku, aku mencoba bersikap baik-baik saja seperti tak pernah ada masalah, aku menyapa, yaa aku benar-benar menyapanya, aku berdamai dengan diriku sendiri dan mencoba berdamai dengan dia. entah mengapa dari sekian cara yang kulakukan tidak membuahkan perubahan, sepertinya aku dan dia sama-sama bersikeras pada pendirian masing-masng. aku merasa tak bersalah, aku memang menyinggung perasaannya, tapi tidak ada niat untuk menyakiti dan merubah keadaan yang baik-baik saja menjadi buruk.

aku adalah wanita yang bisa dibilang periang, apalagi jika lawan bicaranya menyenangkan, aku biasa bercanda dengan rekan-rekanku, hal itu biasa kami lakukan jika memang ada waktu luang, aku dan mereka terbilang akrab karna memang kami telah berteman cukup lama, dan telah bekerja di tempat yang sama dengan waktu yang tidak singkat, aku berpikir dengan penjabaran yang seperti itu tidak akan ada lagi kesalahpahaman yang terjadi jika sedang bercanda, baik perkataan ataupun perbuatan, dan hal yang harus aku alami adalah hal yang terburuk yang selama ini tidak ingin aku pikirkan.

saat itu kami sedang dalam jam kerja, aku menemukan dia telah merubah penampilannya menjadi lebih muslimah, jelas saja respon pertama yang aku lakukan hanya bisa terkejut, aku berpikir sangat bagus jika dia memang telah memantapkan hatinya untuk segera memakai hijab, aku tersenyum padanya lalu mengucapkan satu kalimat "bakal dibuka lagi gak jilbabnya ?", aku berbicara seperti itu hanya untuk bercanda, benar-benar tidak ada niat untuk menyakiti hatinya, tapi kemudian dia membuang muka yang berubah menjadi kesal padaku dan membalas perkataanku, "urusan gua mau dibuka lagi apa gak", dari sinilah awal semua kesalahpahaman terjadi. hari itu berubah menjadi kelam bagiku, tersenyumpun rasanya malas, kurasa waktu berjalan semakin lama dari biasanya. aku mencoba bersikap biasa menghadapi itu aku yakin dia tidak marah dengan perkataanku, tapi dugaanku salah.

semua yang telah kubangun selama ini berubah mulai hari itu. tak ada lagi senyum, tak ada lagi tegur sapa yang menjadi penghias saat penat bekerja menghampiri, entah mau bagaimana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar